Jihad jangan pernah mati!!

6 06 2007

Siang itu, senandung kecil berbunyi di HP ku. “Ukhti… beliau telah mendahului kita. Allah lebih mencintainya dari pada kita. Siang hari tadi Allah memanggilnya.” Innalillahi wa inna ilaihi rojiun … Masih terpana dan diam membisu hingga bunyi SMS berikutnya. “Dalam kecintaan yang suci, telah berpulang kekasih Allah, akhi kita tercinta ….” Air mata mulai meleleh dari sudut mana yang begitu paham, apa arti tangisannya kali ini. Selanjutnya, SMS berantai dan saling tangis di telepon pun mewarnai hari melepas kepergian seorang mujahid.
Usianya masih muda, berkisar 20an tahun. Semangatnya masih membara, mengusung idealisme dakwah yang mendunia. Kinerjanya luar biasa, mendobrak kebekuan kreativitas ide dan karya. Lembut suara dan gemulai geraknya, tidaklah membuatnya tersisih dari pertarungan dakwah yang penuh tantangan ini. Tepat setahun lalu mengenalnya. Tapi, setahun cukup sudah mengukir kanangan indahnya perjuangan bersamanya.
***
Begitulah hidup seorang mujahid. Dakwah adalah urat nadi kehidupan. Tak peduli dalam kodisi sesulit apapun, hembusan nafas adalah aroma dakwah. Denyut nadi adalah detak perjuangan. Berkarya dan teru berkarya adalah sebuah keniscayaan dalam medan dakwah ini. Tak peduli apakah karya itu akan dilihat besar atau kecil oleh manusia. Tak peduli apakah orang akan memuji atau malah mencaci. Seorang mujahid hanya tahu bahwa hidup ini amatlah singkatnya. Apa pun yang dipunya hanyalah tuk sebuah persiapan menuju pertanggungjawaban di hadapan yang Maha Agung.
Dan, Apakah kita telah membuktikan janji pada Rabb? Beliau telah memenuhi tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi ini. Tangis orang-orang yang melepas kepergiannya bukanlah sembarang kesedihan. Di dalam tangis itu, ada untaian doa yang indah untuk kebahagiannya. Di dalam doa itu ada kecemburuan tuk bertemu Rabb semesta alam. Di dalam tangis itu, ada janji terpatri tuk melanjutkan perjuangan ini.
Sekali lagi, begitulah hidup seorang mujahid. Hadirnya memberi semangat dan kesejukan pada sekitarnya. Perginya menoreh kesedihan tanda kecintaan. Sepeninggalnya, cita-cita agungnya menjadi inspirasi dan motivasi bagi sahabat-sahabat dan penerusnya. Dakwah ini masih panjang. Masih terbuka kesempatan untuk mengisi barisan kafilah pejuangnya. Pilihan ada di tangan kita. Akan berdiri di mana kah kita ….?
Dunia yang mudah lupa barangkali tak banyak yang mengenang ini. Padahal, saat itu gambar mengharukan itu termuat di hampir semua media dunia berkat rekaman awak TV Prancis. Adalah adegan Jamal Ad-Durra yang meringkuk di belakang tong di dekat persimpangan Gaza-Khan Yunis sambil menggamit dan melindungi putranya, Muhammad Ad-Durra, dari tembakan ngawur tentara Israel. “Jangan khawatir, Ayah. Ambulans akan datang menolong kita,” kata bocah 12 tahun itu sesaat sebelum peluru tajam merobek perutnya. Dua petugas memang keluar dari ambulans untuk menolong, tapi segera tertembak. Sejam kemudian, tubuh Jamal telah tersimpuh dengan luka tembak di sikut, tangan, dan kaki. Sedangkan bocah itu tewas tertelungkup di betis sang ayah.
Ya. Sementara mereka membeli tiket jalur bebas hambatan ke surga, jihad macam apa yang kita lakukan untuk meniru atau menyokong mereka? Cukupkah dengan duduk dan bersendawa kekenyangan sambil menyaksikan semua itu di TV dan koran? Duh, jangan-jangan kita memang tak peduli lagi pada perjuangan saudara kita itu, dan lebih peduli pada apa gerangan nasib si tokoh Anu yang rupawan-tapi-pandir dalam sinetron bebal. Dan, jangan-jangan, diam-diam kita malah memendam kenikmatan aneh dalam melihat leleran darah di tv itu, lantaran kebanyakan dicekoki dan mencekoki diri kita dengan berita kriminal yang super vulgar.
Memang, secara geografis, Palestina jauh dari negeri kita. Tapi alangkah karibnya ia dengan sejarah Islam. Ke sana kiblat pertama kita, dari sana Rasulullah mi’raj, di sana Isa putra Maryam lahir. Dan wanita Palestina telah melahirkan mujahid agung dari Imam Syafi’i, Izzuddin Al Qossam, hingga Yahya Ayash.
Akankah kita tidur, kongkow di mal, negeceng, main game, dan seterusnya setelah lebih dari setengah abad tanah suci itu dirundung kekejian? Bukankah seharusnya kita sakit, sebab sebagian tubuh kita disakiti? Bukankah doktrin abadi persaudaraan kita adalah: “Bahwa sesungguhnya kaum muslimin itu satu tubuh, bila satu bagian sakit, seluruh bagian lainnya akan turut merasakan”?
Tidakkah kita merasa aneh, jika perjuangan saudara seiman kita itu tak cukup mengilhami kita untuk giat berjuang di jalan Allah juga?
Kemalasan akan berujung pada minimnya peran kita. Bayangkan, jika berjihad melawan rasa malas diri sendiri saja kita keok, bagaimana kita akan bisa berjihad dan membantu saudara kita yang tertindas? Tanpa kerja keras, bagaimana lembaga ekonomi, ilmiah, sosial, budaya, dan dakwah kita akan bergairah?
Jika kita loyo, dengan apa lagi kita mesti menghadapi orang setangguh Golda Mier, si mantan perdana menteri Israel yang pernah bekerja enam belas jam per hari tanpa istirahat demi mempertahankan prinsip dan pikiran sesatnya? (Bersama Ben Gurion, Golda Mier adalah orang yang kemudian berhasil mendirikan negara Israel di atas bumi Palestina).
Panggilan jihad yang perlu kita sambut adalah kontribusi terbaik apa yang bisa kita sumbangkan, baik buat saudara kita di Palestina maupun buat ummat secara umum. Di depan tiap muslim, ladang jihad telah menanti: kebodohan, kemiskinan, pengangguran, penindasan, penyesatan, penjajahan, kriminalitas, ketidakadilan, dan sebagainya. Kalau kamu karyawan, tunjukkan karya terbaikmu. Jika kamu penulis, wartawan, atau siapa pun yang punya perangkat untuk menyebarkan kebenaran, paparkanlah kebenaran itu, sebab pers dunia telah bias oleh berbagai kepentingan segelintir raja media.
So, ketika raga Mujahadah adalah sebuah sikap bersungguh-sungguh atau optimalisasi dalam melakukan sesuatu. Kondisi perang yang tak seimbang membuat orang-orang Palestina harus mengupayakan berbagai cara serta sarana untuk melawan. Mata dunia tentu saja harus dibuat melek bila mereka tetap bilang bahwa kekuatan dapat menjadi senjata yang bahkan membuat gentar musuh, orang-orang Palestina pun bermujahadah dengan aksi-aksi syahidnya.
Dan kamu sobat muda muslim, apa aksi mujahadah kamu?


Tindakan

Information

Satu tanggapan

14 08 2009
Shasty

Tulisanny bikin semangat,syukroN..JazakalLah..
ALLAH HU AKBAR!!!
Mari tUmbuhkan semangat JIHAD, b’juang tanpa LeLah.,

Tinggalkan komentar