<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hamasah</title>
	<atom:link href="http://buletinhamasah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://buletinhamasah.wordpress.com</link>
	<description>Gelorakan semangat Jihadmu!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jul 2007 03:54:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='buletinhamasah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hamasah</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://buletinhamasah.wordpress.com/osd.xml" title="Hamasah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://buletinhamasah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ibupun Butuh Cinta</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/29/ibupun-butuh-cinta/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/29/ibupun-butuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jul 2007 03:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/29/ibupun-butuh-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu hal menakjubkannya ibu adalah TAU dimana barang yang bagus tapi murah!! Sungguh, suatu hari ana merasa ’ ngesak’ ketika ana membeli sebuah tas kulit sintetis seharga 20ribuan. Terselip rasa bangga di hati ketika mendapatkan tas tersebut dari harga 50ribuan. Ketika sampai di rumah, Ibu ana mengatakan,”tu di tempat ini pasti bisa lebih murah,len. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=31&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a TITLE="ibu" HREF="http://buletinhamasah.files.wordpress.com/2007/07/ibu.jpg"><img ALIGN="left" ALT="ibu" SRC="http://buletinhamasah.files.wordpress.com/2007/07/ibu.thumbnail.jpg" /></a><a TITLE="cinta.jpg" HREF="http://buletinhamasah.files.wordpress.com/2007/07/cinta.jpg"><img ALT="cinta.jpg" SRC="http://buletinhamasah.files.wordpress.com/2007/07/cinta.thumbnail.jpg" /></a></p>
<p>Salah satu hal menakjubkannya ibu adalah TAU dimana barang yang bagus tapi murah!! Sungguh, suatu hari ana merasa ’ ngesak’  ketika ana membeli sebuah tas kulit sintetis seharga 20ribuan. Terselip rasa bangga di hati ketika mendapatkan tas tersebut dari harga 50ribuan.  Ketika sampai di rumah, Ibu ana mengatakan,”tu di tempat ini pasti bisa lebih murah,len. Yang di jalan ini tu”. Ternyata memang iya, setelah ana cek di tempat tsb.<br />
***<br />
Bagi setiap orang, Ibu itu penting. wajah lembutnya, senyum manisnya, kelembutan tuturnya, dan segenap nasihatnya selalu mampu membuat anak-anaknya merasa aman.<br />
Setiap anak tentu tidak akan mememungkiri betapa peran ibu mempunyai porsi terbesar dalam pertumbuhan dan perkembangannya.<br />
Bagaimana tidak? Ruh seorang anak dititipkan Allah melalui rahim ibu. Sembilan bulan sepuluh hari ia berbagi makanan, cairan, dan suplemen tubuh lainnya dengan ibu. Bahkan setiap apa yang dikonsumsi ibu saat hamil bisa dipastikan adalah untuk janin di rahimnya. Pada masa itu banyak penderitaan yang dialami ibu. Sulit makan di awal-awal kehamilan, membenci sesuatu yang paling disukai saat tidak hamil, sulit bergerak, belum lagi maturational crisis (krisis pada masa hamil ) yang harus dialami.<br />
Saat melahirkan sang bayi, ibu bahkan harus mempertaruhkan nyawanya. Tidak sedikit ibu yang meninggal saat melahirkan. Kemudian dimulailah masa-masa radikal dalam kehidupan anak. Saat anak hanya mampu berkomunikasi dengan tangisan, ocehan-ocehan yang mungkin hanya ibu yang memahaminya, gerakan tangan, tendangan kaki, dan genggaman jari. Begitu lambatnya pertumbuhan kita namun begitu sabarnya ibu mengurus kita. Makan melalui mulut, berbicara, berjalan, semuanya harus dipelajari. Bukankah ibu yang mempunyai peran terbesar dalam tahapan itu?<br />
Kita tumbuh menjadi anak-anak yang lincah dan cenderung nakal. Aktif dan selalu ingin bermain. Ibu dengan sabarnya menemani kita kendati harus letih mengejar kita, melompat, dan memanjat bersama kita. Ia dampingi tahapan-tahapan penting dalam pertumbuhan kita dengan senyum dan harapan indah akan masa depan cerah kita. Ibu tanamkan aqidah dan akhlaq.<br />
Ketika kita sakit ibu adalah orang yang paling panik. Ketika kita nakal ibu adalah orang yang paling sedih. Ketika kita berhasil ibu adalah orang yang paling bahagia. Yakinilah itu!<br />
Setelah dewasa anak-anak mulai sibuk dengan dirinya sendiri. Berjuang sekuat tenaga untuk</p>
<p>mengembangkan karir dan mengukir kesuksesan. Sementara itu, ada ibu yang beranjak tua dan mulai lemah.Ana pernah mengalami ketika ana begitu sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan amanah. Pergi pagi, pulang sore. Besoknya begitu lagi. Pantas saja jika ibu ana marah besar. Ana tidak diperbolehkan untuk keluar rumah kacuali untuk kuliah. Berbagai emosi bercampuk aduk di benak ana. Marah pada ibu yang dianggap tidak mengerti sekaligus kebingungan mengerjakan amanah yang sudah hampir deadline.Ditengah gejolak itu,ana akhirnya memutuskan untuk merapikan baju-baju yang ada di lemari. Betapa terkejutnya ana ketika melihat daster kesayangan ana yang kemarin koyak, telah terjahit kembali dengan rapi. Entah sudah berapa kali terlintas niat untuk menjahitnya, tp,slalu ada alasan menundanya. Daster tsb akhirnya membuat ana ‘melihat’ lebih dalam ttg apa-apa saja yang beberapa hari ini ana lewatkan. Ibu benar-benar mempunyai caranya sendiri untuk merefleksikankasih sayangnya Walaupun disaat Beliau kecewa dengan sikap-sikap kita. Hari itu membuat ana berjanji untuk menggenahkan dahulu urusan rumah sebelum pergi. Mungkin untuk sebagian orang hal ini menjadi sepele. Tapi, bukankah basis da’wah Rasulullah pertama kali adalah keluarganya?<br />
Diriwayatkan seorang laki-laki datang kepada Nabi saw seraya bertanya tentang orang yang paling layak ditemani. Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?”<br />
“Ibumu,” jawab Nabi. “Kemudian siapa lagi?” tanya lelaki itu. “Ibumu,” jawab Nabi. “Kemudian siapa lagi?” Rasul menjawab, “Kemudian ayahmu.”<br />
Tanpa mengurangi hormat kepada ayah, Rasulullah mengucapkan ibu sebanyak 3x baru setelah itu ayah untuk menegaskan bahwa peran ibu itu begitu besar. Coba antum coba cermati, hal-hal apa yang sekarang telah jarang antum lakukan bersama ibu? Apakah itu bercerita, memijitnya,menyisirkan rambutnya ataupun sekedar membuat teh manis hangat kesukaannya. Rasa sayang itu terkadang tak cukup dengan ucapan tetapi butuh tindakan pembuktian.<br />
Sungguh&#8230; Ibu pun butuh cinta dari kita, anak-anaknya. Wallahua’lam.<br />
(For my mom,’Tunduk maaf dari ananda’,Nel).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=31&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/29/ibupun-butuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Stop Mengeluh!</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/stop-mengeluh/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/stop-mengeluh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2007 08:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Premier]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/stop-mengeluh/</guid>
		<description><![CDATA[Mengeluh adalah perbuatan yang paling mudah dilakukan,seringkali kita mendengarkan suara-suara yang mengeluh tentang dakwah dan segala pernak-perniknya ini,apalagi suara tersebut begitu akrab tentunya di telinga para aktivis.Mengeluh adalah tanda-tanda penurunan keimanan.Orang-orang yang robbani yang disifatkan Allah dalam Al-Qur&#8217;an adalah mereka yang tidak pernah mengenal lemah,lesu dan menyerah dalam kondisi yang mereka geluti,betapapun beratnya medan perang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=23&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p ALIGN="left">Mengeluh adalah perbuatan yang paling mudah dilakukan,seringkali kita mendengarkan suara-suara yang mengeluh tentang dakwah dan segala pernak-perniknya ini,apalagi suara tersebut begitu akrab tentunya di telinga para aktivis.Mengeluh adalah tanda-tanda penurunan keimanan.<img ALIGN="left" HEIGHT="420" WIDTH="273" BORDER="0" ALT="palestinian kids" SRC="http://buletinhamasah.files.wordpress.com/2007/07/cute_palestinian_student_by_yaziuchiha327.jpg" />Orang-orang yang robbani yang disifatkan Allah dalam Al-Qur&#8217;an adalah mereka yang tidak pernah mengenal lemah,lesu dan menyerah dalam kondisi yang mereka geluti,betapapun beratnya medan perang yang mereka arungi,namun semuanya tidak dapat membuat diri mereka menjadi lemah,lesu dan menyerah.</p>
<p>Bagaimana menghadapi banyaknya kader yang tipe begini? Tentunya perlu sikap bijak dari kita semua,perlunya kehati-hatian dalam mencerna setiap informasi yang masuk dan mewaspadai akan kondisi yang sedang terjadi,lebih-lebih jika yang berbicara adalah para aktivis yang sudah malang melintang di dunia dakwah kampus,maka persiapannya mustilah ekstra teliti.<br />
Kondisi ini akan terus berjalan,kelemahan,kelesuandan sikap ingin menyerah dengan kondisi yang ada,namun tidak sama halnya dengan mereka yang punya jiwa optimisme,keyakinan,bahwa sekecil apaun kontribusi yang telah dilakukan,sekecil apapun andil yang telah dimainkan,sekecil apapun perhatian yang telah dicurahkan,jika ia melakukannya secara terus menerus maka pasti mambuahkan hasil.Sabarnya Yahudi merusak Amerika<br />
Sebelum dunia ini di rusak,maka orang Yahudi merusak terlebih dahulu warga Amerika,dan jauh sebelum Amerika rusak,mereka telah merusak Eropa,dan jauh sebelum mereka merusak Eropa,mereka telah merusak kekhalifahan Islam,dan jauh sebelum itu mereka telah merusak penduduk Madinah,hingga datangnya Islam yang membebaskannya dari mereka.<br />
Kesabaran Yahudi dalam merusak Amerika diperlihatkan dengan tabahnya mereka menunggu hingga 50 tahun untuk membuat warga Amerika menonton (maaf) adegan ciuman di layar lebar.Dimana untuk zaman itu,adegan tersebut adalah suatu hal yang luar biasa,merusak dan akan menimbulkan demo besar-besaran di seluruh negeri.Tetapi lihatlah usaha mereka yang tiada menyerah dari satu generasi ke generasi mereka mencuci otak orang-orang Amerika,hingga akhirnya mereka mau melakukannya.Kemudian setelah tahap ini sukses,merekapun melanjutkan pengrusakan  itu melalui media-media seperti Televisi yang baru ditemukan,dan terus berjalan hingga era Bill Gate hari ini.Sebenatnya kerusakan akibat Ghozwul Fikri hari ini adalah buah dari perjalanan berat dan melelahkan mereka untuk merusak Ummat manusia.Dan kelicikan Yahudi ini juga dilakukan dengan menanam agen-agen mereka dalam hampir semua lini,dan profesi,ada yang menyamar menjadi artis,aktor,bintang film,pelukis,hakim,presenter,politikus,sastrawan dan yang jelas usahawan.<br />
Lalu pandanglah kerja kita hari ini yang belumlah seberapa dibanding kerja kerusakan yang dilakoni oleh Yahudi berikut partai dan kelompok LSM,organisasi,intelejen,media,militer dan Negara mereka.Kesemuanya ini tentu akan menyadarkan kita,bahwa sebenarnya belum banyak yang dapat kita perbuat untuk menghadapi mereka.Perang sesungguhnya masihlah jauh,namun perang urat syaraf hakekatnya sudah lama terjadi.Dan mohon maaf bagi mereka yang benyak mengeluh,karena dakwah tidak menyediakan ruang buat diri anda.Wassalamu&#8217;alaikum wr.wb.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=23&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/stop-mengeluh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MUSLIM NEGARAWAN: WACANA ATAU IMPIAN?</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/muslim-negarawan-wacana-atau-impian/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/muslim-negarawan-wacana-atau-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2007 08:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Premier]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/muslim-negarawan-wacana-atau-impian/</guid>
		<description><![CDATA[Prolog : Dahulu kala di negeri antah berantah, ada seorang Arab yang ingin mengunjungi temannya di suatu kota yang sangat jauh letaknya dari kota si orang Arab. Orang Arab ini sangat amat miskin. Ia bahkan terlalu miskin untuk menempuh sebagian saja dari perjalanan yang pastinya memakan biaya besar. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=21&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p STYLE="text-align: center"><img HEIGHT="328" WIDTH="483" VSPACE="1" HSPACE="1" BORDER="1" ALT="fatah men" SRC="http://buletinhamasah.files.wordpress.com/2007/07/fatah-men.jpg" /></p>
<p><strong>Prolog : </strong><em>Dahulu kala di negeri antah berantah, ada seorang Arab yang ingin mengunjungi temannya di suatu kota yang sangat jauh letaknya dari kota si orang Arab. Orang Arab ini sangat amat miskin. Ia bahkan terlalu miskin untuk menempuh sebagian saja dari perjalanan yang pastinya memakan biaya besar. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju kota sang teman.<br />
Perjalanan ini memakan waktu berminggu-minggu karena ia harus melintas padang pasir, naik turun gunung dan menyeberang beberapa sungai. Akhirnya, dengan kaki yang melepuh dan badan yang sangat letih, sampailah juga ia ke rumah sang teman. Sambutan hangat, rindu bercampur dengan rasa heran sang teman. “Bagaimana kau dapat menempuh perjalanan sejauh ini?” Si orang Arab memberinya jawaban sederhana “Aku memulainya.” (unknown author)</em><br />
…<span id="more-21"></span><br />
Kisah datar ini memberikan inspirasi yang sangat kuat bagi penulis untuk berpikir tentang manifestasi konsep Muslim Negarawan. Konsep yang sangat ideal. Secara teori mampu menjadi solusi bagi degradasi moral yang tidak pandang bulu melanda semua kalangan (contoh kasus: DPR Gate dan PNS Gate).<br />
Namun jika hal ini coba dikomparasikan dengan kualitas kader KAMMI sekarang, wajar jika penulis lebih memilih opsi ragu demi melihat realita yang ada. Maka dari itu cerita diatas seharusnya menjadi inspirator besar bagi kader-kader KAMMI untuk mulai mewujudkan konsep tersebut. Ibda’ binafsik begitu kata pepatah.<br />
Memang diskursus seputar Muslim negarawan saat ini menjadi primadona dalam wacana internal KAMMI. Dari satu bahasan ke bahasan lainnya tidak jauh-jauh dari membicarakan topik ini. Yah butuh waktu yang sangat panjang untuk menginternalisasikan nilai-nilai muslim negarawan pada jiwa-jiwa kader. Dari sekedar wacana teoritis menjadi sebuah aplikasi praktis. Sampai kapan? Entah setahun, dua tahun atau bertahun-tahun nilai tersebut memanusia dalam diri kader.<br />
Dalam Risalah Kaderisasi Manhaj 1427 H KAMMI, dinyatakan bahwa Kader KAMMI harus mempunyai 39 citra kader yang merupakan kualitas khas. Subhanallah 39! Belum lagi kader harus memenuhi kompetensi dasar kader KAMMI sebanyak 65 point. Apalagi (lagi) genap disempurnakan dengan Grand Design Manhaj Kaderisasi 1427 H dengan profil Muslim Negarawan. Tidak perlu ditulis. Kita bayangkan saja bersama. Selintas bayangan Insan Syamil Mutakamil Jiddan pun tergambar dalam benak penulis. Pesimis? Tentu tidak. Hanya sekedar penyentil sebagai tanda peringatan bagi orang yang melamun agar kakinya tetap berpijak di bumi meskipun pemikirannya melangit.<br />
Dalam Grand Design dijabarkan mengenai siapa yang dimaksud dengan Muslim Negarwan. Muslim Negarawan adalah kader KAMMI yang memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, idealis dan konsisten, berkontribusi pada pemecahan problematik umat dan bangsa, serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan. Dan ini semua ada dalam koridor Islam? Mari kita telaah bersama…<br />
Memiliki basis ideologi – Warning!! Ideologi bukan sekedar pengetahuan – Islam yang mengakar.<br />
Apa yang mesti dilakukan kader KAMMI untuk mewujudkan pondasi pertama ini? Tentu saja penanaman aqidah yang lurus, sehingga terbentuknya kesadaran dan kefahaman bahwa Islam adalah way of life dan value of life yang menginternal. Bukan hanya sekedar simbol. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sejauh mana usaha yang telah dilakukan kader KAMMI untuk memenuhi unsur ini? Terlalu dangkal rasanya jika hanya cukup mengandalkan MK (Madrasah KAMMI) dan mendapat materi Ma’rifatullah saja. Kita kalkulasi bersama. Seberapa sering durasi kajian aqidah dan manhaj diadakan? Lalu bagaimana dengan minat kader untuk mendatanginya?<br />
Memiliki basis pengetahuan dan pemikiran – tentunya Islam – yang mapan.<br />
Merujuk unsur ini, maka semua buku-buku ke-Islaman merupakan kewajiban yang bersifat fardhu ‘ain bagi kader. Referensi lain hanya bersifat sebagai pendukung saja. Tapi rupanya kondisi sekarang sudah terbalik. Buku ke-Islaman harus cukup puas hanya dijadikan sebagai pelengkap jika dibutuhkan sementara wacana yang menjadi trend di kalangan kader adalah yang berbau kekiri-kirian. Bahkan sampai muncul opini bahwa KAMMI itu sebenarnya adalah kanan yang kekiri-kirian atau kiri yang kekanan-kananan? Bisa jadi Syndrom Ashabus Syimal mulai menyerang KAMMI.<br />
Apakah hal ini salah? Atau tidak boleh? Tentu saja tidak salah. Justru bagus, untuk memperluas cara pandang dan pengetahuan apalgi yang berkaitan dengan pola pemikiran dan gerakan lawan. Tetapi ironis ketika kader belum mengkhatamkan Shiroh Nabawiyah, Tarikh Islam, Shiroh Tabi’in, Kitab Fiqh, Kitab Tajwid plus tahsin, dan buku-pergerakan dan pemikiran Islam, tetapi sudah tergoda untuk mencicipi buku-buku ashabus syimal sebagai referensi diskusi dan tulisan, atau bahkan mulai dijadikan dasar pemikiran.<br />
Tidak heran makanya ketika ada seorang kader yang begitu fasih menyebutkan pemikiran Machiaveli, Adam Smith dan pemikir western lainnya tapi kelu saat harus menceritakan shiroh Nabi dan shohabat, terlebih lagi menyebutkan pemikiran Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, dan sejumlah pemikir Islam lainnya.<br />
Ironis juga rasanya melihat kader yang begitu lancar berdialektika dan beretorika dalam diskusi dan orasi tapi seret dan tersendat-sendat saat tilawah. Lalu bagaimana misi KAMMI untuk membentuk masyarakat Robbani bisa diwujudkan lah wong bakal generasi Robbani-nya jauh panggang dari api. Bukankah Al Qur’an yang agung dengan sempurna telah menjelaskan kepada kita siapa sebenarnya generasi Rabbani itu? Generasi Rabbani adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an (QS 3:79). Bisa dibayangkan dengan tilawah yang masih terbata-bata, dan mengkhatamkan sekali per bulan saja belum tentu wal’iyadz billah. Nastaghfirullah… (kalau ini autokritik). Belum lagi kewajiban menghafal. Barangkali kita masuk kategori “Juz ‘ammanya pun bolong sana-sini” (penggalan nasyid Gondes).</p>
<p>Idealis dan konsisten<br />
Sebuah keniscayaan bahwa mahasiswa harus idealis. Mau jadi apa bangsa jika mahasiswanya tidak idealis? Apalagi KAMMI yang genah-genah meletakkan Islam sebagai solusi permasalahan harus senatiasa idealis, berjiwa heroik/dinamis dan senantiasa bermujahadah untuk konsisten. Aneh rasanya melihat ada kader KAMMI kok melankolis, terkena VMJ atau sekarang yang sedang ngetrend HTS. KAMMI terlalu banyak pekerjaan daripada hanya sekedar mengurusi hal-hal yang yang tidak bermutu seperti itu. Hmm&#8230;, Muslim Negarawan rasanya terlalu jauh.<br />
Berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa<br />
Amal adalah bentuk implementasi dari iman. Dalam QS 9:105 dikatakan “Dan katakanlah, beramallah kalian, maka Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin akan melihat amal kalian.” Ketika kader berkontribusi pada masyarakat maka ia harus merupakan part of solution bukan malah menjadi part of problem. Bukankah khoirunnas anfauhum linnas?<br />
Menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan<br />
Memfungsikan diri sebagai perekat, maka menjadi suatu keharusan bagi kader KAMMI untuk masuk ke dalam berbagai lapisan masyarakat. Lepas dari baju ke-ekslusifan dan mulai mengupayakan sebuah formula yang bagus dan efektif untuk merambah kalangan Gepeng dan orang-orang pinggiran. Tidak hanya terpaku pada kalangan intelektual saja. Pastinya kita semua mahfum siapa yang selama ini mampu menggerakkan arus bawah dengan mengangkat isu buruh, HAM dan tema-tema sejenis lainnya.<br />
&#8230;<br />
Menjadi tugas agung bagi KAMMI, tentu saja Bidang Kaderisasi khususnya agar mampu menginternalisasikan Muslim Negarawan pada pribadi kader. Ini merupakan – meminjam istilah Anis Matta – Proyek Peradaban KAMMI. Saat ini yang harus diperbuat KAMMI adalah LAKUKAN seperti apa kata orang Arab pada prolog diatas. Bukan hanya terpaku seputar wacana saja. Ala kulli hal, semoga dengan melahirkan kader-kader Muslim Negarawan KAMMI mampu menjawab tantangan Fayaz Aziz dalam bukunya Dicari! Pemimpin Peradaban Dunia.<br />
Semoga tulisan ini bukanlah wujud kepesimisan tapi lebih sebagai sebuah harapan. Allahu a’lam.<br />
Written By <a HREF="http://www.mujahidahhelen.wordpress.com">Helen</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=21&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/muslim-negarawan-wacana-atau-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU SEORANG REVOLUSIONER!</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/aku-seorang-revolusioner/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/aku-seorang-revolusioner/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2007 07:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Q-Ta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/aku-seorang-revolusioner/</guid>
		<description><![CDATA[Aku Seorang Revolusioner! Revolusioner berasal dari kata revolusi, yang berarti perubahan mendasar secara spontan, cepat, bersifat structural; dari sisi pengertian seperti ini maka makna yang dapat ditangkap dari kata revolusi adalah sebuah perubahan yang bersifat sporadic, cepat dan strategis. Dalam kurun waktu terdahulu, Nabi Muhammad SAW pernah melakukan revolusi yakni pada saat fathu Mekkah, penaklukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=20&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font COLOR="#ff0000">Aku Seorang Revolusioner!</font><br />
Revolusioner berasal dari kata revolusi, yang berarti perubahan mendasar secara spontan, cepat, bersifat structural; dari sisi pengertian seperti ini maka makna yang dapat ditangkap dari kata revolusi adalah sebuah perubahan yang bersifat sporadic, cepat dan strategis. Dalam kurun waktu terdahulu, Nabi Muhammad SAW pernah melakukan revolusi yakni pada saat fathu Mekkah, penaklukan kota Mekkah, Perancis pada tahun yang berbeda mengalami revolusi atau perubahan secara dramatis dalam bidang sosio pembangunan dari agraria ke industri.<span id="more-20"></span><br />
Dalam pengertian yang sederhana, revolusi selalu dihubungkan dengan waktu, semakin cepat perubahan yang dilakukan maka setidaknya itulah yang dipahami tentang revolusi. Dengan demikian, dalam perubahan dikenal dua istilah perubahan yang keduanya berkaitan dengan waktu, yaitu revolusi dan evolusi. Kedua istilah perubahan yang diperkenalkan ini memiliki limit waktu yang berbeda, yang pertama bergerak secara cepat sementara yang kedua bergerak lambat.<br />
Hal yang ingin digarisbawahi dari kata revolusi atas seorang revolusioner adalah semangat menghargai waktu. Nah sekarang, coba tanyakan kepada semua orang tentang harga sebuah waktu. Tanyakan kepada pekerja harian pada sebuah perusahaan tentang makna sehari, tanyakan kepada penjaga rel kereta api, betapa bermaknanya satu jam bagi dirinya, tanyakan kepada mereka yang lolos dari sebuah kecelakaan yang merenggut banyak nyawa tentang betapa berharganya satu detik kehidupan mereka, atau tanyakan kepada seorang juara lari 100 m tentang berharganya waktu bagi mereka, seseorang yang mampu mengelola prestasi dalam hitungan detik, dalam hitungan waktu tertentu, maka tentulah mereka adalah seorang revolusioner sejati.<br />
Lantas apa yang menyebabkan seseorang bisa berubah secara cepat ? misalnya dari sisi prilaku, yang tadinya nakal menjadi baik, sopan, dari yang sering menampakkan aurat jadi demikian santun menggunakan jilbab lebarnya, dari yang shalatnya di rumah kemudian berubah dan rajin sehingga shalat di masjid. Komitmen terhadap pilihan  pilihan perubahannya. Sejarah Islam mengajarkan kepada kita tentang bagaimana seseorang itu berubah, dan kemudian bersikap istiqomah atau Bagaimana Bilal Bin Rabah yang masuk Islam dan kemudian bersikukuh mempertahankan ke Islamannya, atau Umar bin Khatab, ra yang masuk Islam dalam waktu yang sebentar hanya karena mendengar adiknya tengah membaca Al Qur&#8217;an, atau dalam kurun waktu yang berbeda juga terdapat orang  orang yang terbilang sukses dalam melakukan perubahan diri secara signifikan. Di antara banyak pelajaran yang dapat diambil, di antaranya adalah sebagai berikut :<br />
Pertama; Perubahan adalah sebuah pilihan. Jika kita sering mendengar istilah status qua, konservatif, stagnan, kolot; istilah ini tentunya tidak ada dalam kamus berpikir seorang revolusioner.Seorang revolusioner yang hendak melakukan perubahan pada dirinya, menyadari bahwa perubahan  perubahan yang berlaku pada dirinya adalah sesuatu hal yang dinamis, terus bergerak ke berbagai sector kehidupan, sekalipun hal  hal yang bersifat prinsip tidak dilanggarnya.<br />
Perubahan bagi seorang revolusioner adalah bahwa hari ini harus selalu jauh lebih baik dari hari sebelumnya, di sini lah cirri  cirri seorang revolusioner, di mana ia selalu dinamis dalam menghadapi setiap persoalan hidup, baginya perubahan adalah proses bukan sebuah tujuan. Dan semua ini adalah sebuah pilihan sadar, sebuah pilihan yang mengandung banyak resiko diskriminasi social, pemenjaraan bahkan kematian adalah resiko sebuah perubahan bagi dirinya.<br />
Kedua; Perubahan adalah sebuah proses. Dalam catatan berpikir seorang revolusioner, perubahan yang dilakukannya adalah sebuah proses, proses menjadi sesuatu yang jauh lebih baik, tidak penting menjadi apa, namun selama kebaikan menjadi hasil dari proses yang dilakukan maka itu jauh dari cukup.<br />
Seorang revolusioner memandang bahwa perubahan yang dilakukan bukanlah pekerjaan singkat, sehingga ia bersungguh  sungguh dalam meng-upgrade diri, berinteraksi dengan aktivitas kebaikan, dan terus menerus melakukan perubahan.<br />
Ketiga, Seorang revolusioner adalah pembelajar sejati. Pembelajar sejati adalah seseorang yang senantiasa berpikir dan berikhtiar dalam melakukan banyak agenda perubahan, baginya menuntut ilmu tidaklah sebatas kebutuhan formal untuk sekedar diakui oleh lingkungan social, Melainkan bahwa pembelajar sejati itu adalah mereka yang berhasil memformat diri secara terus menerus untuk melakukan sebuah proses perubahan. Pembelajar sejati tidaklah selalu dimaknai dengan banyaknya buku bacaan di rumah, melainkan seberapa besar interaksinya dengan ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya berinteraksi dengan buku.<br />
Keempat, revolusioner adalah seorang yang paham akan potensinya. Diri seorang revolusioner terlepas dari sisi kemanusiaanya, maka ia adalah manusia yang tegar terhadap setiap ujian atas perubahan yang dilakukannya, tidak berkompromi dengan rasa malas, tidak berteman dengan pengaggum masa lalu, introvert dan sepi dari tradisi berlomba  lomba.<br />
Nah apakah saya seorang revolusioner sejati ? pertanyaan ini lah yang mengganjal diri saya, atas semua perubahan yang terjadia pada diri saya dan apa  apa saja yang telah saya lakukan terhadap lingkungan saya, apakah saya adalah seorang revolusioner ? Lantas bagaimana dengan anda ?apakah anda termasuk mereka yang sadar akan kehidupannya yang akan senantiasa berubah, dan tidak pernah menunggu sampai kita bisa, tapi berproses menuju sebuah perubahan secara terus menerus, sebab tiada yang abadi di dunia ini selain dari pada perubahan itu sendiri.<br />
Written By Denie</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=20&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/aku-seorang-revolusioner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KITA, SEORANG REVOLUSIONER OR LOOSER?</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/kita-seorang-revolusioner-or-looser/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/kita-seorang-revolusioner-or-looser/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2007 07:54:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Premier]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/kita-seorang-revolusioner-or-looser/</guid>
		<description><![CDATA[KITA, SEORANG REVOLUSIONER OR LOOSER Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan, seorang instruktur mengajukan sebuah kasus yang kelihatannya sederhana kepada para peserta. Andaikan Anda seorang nelayan (modern) yang harus berminggu-minggu di tengah laut menangkap ikan, apa yang akan Anda lakukan agar sesampainya di darat ikan hasil tangkapan tetap segar? Beberapa peserta nampak tergugah dan terjadilah dialog yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=19&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KITA, SEORANG REVOLUSIONER OR LOOSER<br />
Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan, seorang instruktur mengajukan sebuah kasus yang kelihatannya sederhana kepada para peserta. Andaikan Anda seorang nelayan (modern) yang harus berminggu-minggu di tengah laut menangkap ikan, apa yang akan Anda lakukan agar sesampainya di darat ikan hasil tangkapan tetap segar? Beberapa peserta nampak tergugah dan terjadilah dialog yang makin lama makin seru dengan instruktur pelatihan.<br />
&#8220;Masukkan saja ikan-ikannya dalam freezer,&#8221;<br />
&#8220;Itu telah dilakukan. Tapi kesegarannya tetap akan berkurang, karena ketika sampai di darat ikan telah mati cukup lama,&#8221;<br />
&#8220;Kalau begitu, supaya tetap hidup, perlu disediakan semacam tangki air untuk menyimpan ikan,&#8221;<br />
&#8220;Itu pun telah dilakukan. Tapi karena terlalu lama berada dalam tangki, ikan-ikan itu tetap saja mati atau lemas dan tidak segar lagi ketika dijual ke konsumen. Padahal konsumen menginginkan ikan yang masih segar,”<br />
Menit-menit berlalu, tak satu solusi pun tampak sesuai sasaran. Akhirnya instruktur memberikan suatu jawaban yang cukup mengejutkan, yang tak pernah terpikirkan sedikit pun di benak peserta, mungkin juga Anda.<br />
“Solusi yang pernah dicoba dan ternyata berhasil adalah memasukkan seekor ikan hiu ke dalam tangki ikan,&#8221;<span id="more-19"></span><br />
Peserta nampak keheran-heranan mendengar solusi yang bagi mereka tak masuk akal itu.<br />
&#8220;Bukannya ikan hiu itu justru akan memakan habis ikan-ikan lainnya?&#8221;<br />
&#8220;Ya, memang ada ikan yang dimakan ikan hiu itu, tapi jumlahnya sangat sedikit. Ikan-ikan lainnya tetap hidup sampai saatnya tiba di darat dan dijual ke konsumen dalam keadaan tetap segar,&#8221;<br />
“Mengapa demikian?&#8221;<br />
&#8220;Jawabannya adalah karena ikan-ikan itu mendapat tantangan dengan dikejar-kejar ikan hiu. Ternyata dengan adanya tantangan, kemampuan ikan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya semakin tinggi. Ikan-ikan tersebut justru mampu bertahan hidup lebih lama dengan adanya ikan hiu di sekitar mereka. Itulah hukum alam.&#8221;<br />
Ilustrasi di atas dapat dianalogikan pada manusia. Kita akan menjadi manusia yang lemah, malas bekerja keras bahkan segan beribadah, dan cenderung santai jika tidak mendapat tantangan yang besar dalam hidup ini.  Tantangan akan meningkatkan kecerdasan, kompetensi atau kemampuan diri dalam berusaha menyelesaikan masalah. Bayangkan bila kita tidak merasa ditantang, kita tidak akan pernah terlatih untuk menghadapi masalah, apalagi mau menyelesaikannya.Namun demikian, kadang kala sebuah tantangan bisa menjadi suatu hambatan untuk maju, manakala kita tidak berani menghadapinya, sehingga menjadikan kita seorang looser. Dalam kasus di atas ibaratnya ikan kecil yang kurang gesit, sehingga dapat dimakan oleh ikan hiu.<br />
Sesungguhnya Allah lah yang menciptakan tantangan kepada manusia di dunia ini dan sekaligus menyediakan balasannya (reward and punishment), sebagai sarana peningkatan kualitas ketaqwaan. Kadar tantangan-Nya sudah ditakar sangat akurat sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, sebagaimana tercermin dalam QS. Al Baqarah 286: &#8220;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan/tindakan buruk) yang dikerjakannya&#8221;.<br />
Kemampuan dalam menghadapi masalah sebagian besar tidak kita dapatkan di bangku sekolah. Sekolah hanya mengajarkan alat dan metoda yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikan masalah. However, a man behind the gun will mostly determine to win a war, kemampuan kitalah yang lebih menentukan. Kemampuan akan lebih meningkat jika kita terus mengasahnya di dunia nyata (pekerjaan, rumah tangga, lingkungan sosial).<br />
Semakin kita berhasil melewati tantangan akan menumbuhkan semangat baru untuk menyelesaikan tantangan-tantangan berikutnyaSuatu ketika umat Islam mendapat sebuah tantangan. Pada saat itu Rasulullah SAW dan kaum muslimin dikepung oleh pasukan kafir yang bersekutu sehingga jumlahnya berlipat ganda dalam perang Ahzab. Namun ketika sedang memecahkan batu dan menggali parit perlindungan, tiba-tiba dengan izin-Nya Rasulullah SAW mendapat &#8216;gambaran&#8217; mengenai masa depan Islam. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW mengatakan:”Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan nampak olehku dengan nyata istana-istana negeri Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa umatku akan menguasai semua itu. Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak olehku dengan nyata istana-istana merahnya, dan bahwa umatku akan menguasainya.&#8221; Pada saat itu Persi dan Romawi adalah dua imperium besar yang mengelilingi jazirah Arab dan menjadi simbol kekuatan tak terkalahkan selama berabad-abad.Ini adalah sebuah tantangan Allah yang digulirkan oleh Rasulullah kepada kaum Muslimin. Dengan lecutan tantangan ini, Rasulullah dan para sahabatnya kembali bersemangat dan berhasil memenangkan perang Ahzab (Khandaq) walaupun jumlah pasukannya sangat sedikit. Dan tantangan yang dikatakan Rasulullah dalam hadits tersebut juga menambah semangat syiar Islam dan kelak berhasil diwujudkan pada masa Khulafaur Rasyidin dan Kekhalifahan Utsmaniyah. Begitulah, apa yang pada masa itu tampaknya tidak mungkin terjadi, pada kenyataannya bisa terwujud di kemudian hari.<br />
Suatu tantangan tidak harus datang dari luar, namun kita bisa menciptakannya dari diri kita sendiri. Tantangan dalam pekerjaan, keluarga, ataupun dakwah dapat diwujudkan sebagai suatu target pencapaian yang harus dibuat lebih tinggi dari kondisi sekarang.<br />
Jangan pikirkan itu sesuatu yang tidak bisa dicapai. Justru dengan tingginya suatu target, kita menjadi terpacu untuk lebih maju, bekerja lebih keras dan berfikir lebih kreatif. Tentu saja suatu target apakah akan dapat terwujud, tertunda untuk sementara waktu, atau bahkan tidak terwujud itu merupakan hak prerogatif Allah semata. Memupuk potensi yang ada, tidak mudah. Namun juga bukan persoalan yang sulit. Potensi, menurut Webster&#8217;s Dictionary, berasal dari kata &#8216;potent&#8217; yang berarti &#8216;to be powerful&#8217; atau menjadi kuat. Sedangkan kata &#8216;potency&#8217; berarti &#8216;the ability or capacity to achieve or bring about a particular result&#8217;, yaitu kemampuan menghasilkan atau melahirkan suatu produk tertentu. Lawan katanya tentu saja impotent alias ketidakmampuan, atau ketidakberdayaan.tidak satupun di antara kita, sebagai umat Islam, mau disebut sebagai orang yang tidak berdaya. Karena orang-orang yang masuk kategori ini hanyalah orang-orang yang malas. Di rumah sakit jiwa (RSJ) saja, pasien-pasien dengan gangguan dan sakit jiwa ini dibekali dengan berbagai aktivitas positif. Malah di unit rehabilitasinya, mereka ini mampu menghasilkan uang. Hasil karya pasien-pasien RSJ kemudian, tentu dengan bantuan manajemen rumah sakit, dijual hingga dipamerkan. Demikian pula di panti-panti anak-anak cacat, orang jompo, dan lain-lain. Mereka tidak jarang menghasilkan karya-karya, hasil buah tangan yang membuat orang normal kagum. Pemberdayaan segala potensi yang ada ini, jika diupayakan dengan sungguh-sungguh, bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa.<br />
Kita biasanya kurang pandai mengidentifikasi potensi yang kita miliki. Ada beberapa hal yang menyebabkan ketidakmampuan ini. Baik faktor dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Jika dirinci secara umum, faktor-faktor tersebut meliputi: kurangnya materi (poverty), rendahnya penampilan fisik (lack of performance), kedangkalan ilmu (lack of knowledge), serta tidak memiliki keterampilan cukup (unskilled). Ketidakadaan salah satu atau gabungan dari keempat faktor inilah yang membuat kita menjadi &#8216;rendah diri&#8217;, sehingga pemupukan potensi jadi &#8216;tertunda&#8217; atau tidak pernah muncul sama sekali.<br />
Dalam agama Islam, &#8216;kegagalan&#8217; ini tentu saja tidak harus terjadi, karena bertentangan dengan prisnip-prinsip yang diajarkan di dalamnya. Islam mengajarkan kita untuk bekerja keras dan pandai memanfaatkan waktu. Bahkan Allah SWT bersumpah dengan waktu (al-Quran Surat Al &#8216;Asr: 1-3). Rasulullah SAW dan Sahabat-sahabat beliau SAW dalam banyak riwayat disebutkan bahkan jarang tidur karena berbagai aktivitas. Setiap kegiatan positif yang diniatkan ibadah dalam Islam akan mendapatkan pahala.<br />
Kita memang tidak mungkin menyamakan kedudukan atau kegiatan kita dengan apa yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat-sahabat beliau SAW. Kita juga tidak perlu meniru apa yang pernah dikerjakan oleh Thomas Alva Edison yang notabene bukan orang Islam. Namun kita bisa meneladani apa-apa yang beliau-beliau pernah lakukan. Bahwa guna mewujudkan sebuah tujuan, apapun, dibutuhkan kesungguhan dan keseriusan.<br />
Tanpa kesungguhan dan keseriusan, tidak mungkin kita bisa bangun dan menjalankan sholat Fajr. Tanpa kesungguhan, kita tidak bisa menyisakan barang sepuluh menit ditengah-tengah kesibukan kerja menunaikan sholat Dzuhur. Tanpa kesungguhan, kita tidak akan bisa melaksanakan Sholat Asar karena tengah tidur siang nyenyak. Demikian juga ibadah-ibadah yang lain, tidak bakal terlaksana karena kekurangan unsur yang satu ini. Kita ini memang lemah. Kita tidak akan bisa sempurna, meniru persis seperti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Namun demikian, Rasulullah SAW adalah juga manusia biasa, yang kalau kita mau mengkaji, ada hal-hal yang bukannya di luar kemampuan kita untuk mencontohnya.<br />
Rasulullah SAW pernah menjadi seorang negarawan yang hebat; seorang ahli perang yang gagah berani; ahli hukum yang bijaksana; seorang ayah yang penuh kasih; pedagang yang jujur; hingga penggembala domba yang bisa dipercaya. Subhanallah, karakter yang dimiliki beliau SAW bukan hanya dikagumi oleh kawan, musuh beliau pun dibuat takjub.<br />
Terlepas dari kebesaran Allah SWT atas keberhasilan beliau SAW dalam membawa misi Islam yang hanya dalam dua dekade saja bisa menguasai jazirah Arabia, beliau SAW hanyalah manusia biasa, sebagaimana kita. Beliau memiliki waktu 24 jam sehari, berkeluarga dan bermasyarakat, bekerja mulai dari yang nampaknya sepele misalnya menjahit baju hingga mengurus pemerintahan sebuah negara, butuh istirahat dan makan, dan lain-lain.Begitulah Rasulullah SAW. Berbeda dengan kita, beliau SAW jauh dari menjalankan kegiatan yang sifatnya sia-sia dan tidak bermanfaat.<br />
Di sinilah membuktikan bahwa Rasulullah SAW sangat menghargai waktu. Di dunia, hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang mampu menandingi kualitas beliau SAW sebagai manusia yang terbaik. Dari berbagai sudut pandang, politik, ekonomi, sosial, spiritual, hingga pertahanan keamanan, beliau memiliki kesungguhan dalam menjalankan misi mulianya sebagai seorang Rasul.<br />
Allah SWT menghadiahkan potensi tidak hanya kepada Rasul-Rasulnya. Tetapi juga kepada semua manusia, tanpa memandang latar belakang agama dan status sosial lainnya. Siapa yang tekun, akan beruntung. Kalau orang-orang yang buta, lumpuh atau mereka yang kehilangan tangan, dapat melakukan sesuatu yang produktif, mengapa kita yang dikaruniai jasmani lengkap ini tidak kita maksimalkan?<br />
Kemiskinan (proverty) bukanlah alasan kita untuk tidak bisa aktif, karena Rasulullah SAW bukan orang kaya. Ketidaktampanan atau kurang cantik (lack of performance) bukan alasan untuk tidak bisa menumbuhkan potensi, karena Rasulullah SAW atau isteri-isteri serta puteri-puteri beliau tidak menggunakan ketampanan atau kecantikannya untuk pencapaian tujuan hidup sebagaimana ratu kecantikan yang melanda dunia kita sekarang.<br />
Kekurangan pengetahuan (lack of knowledge) dan ketrampilan (unskilled) bukan pula mestinya menjadikan kita untuk pasif. Sahabat-sahabat Rasulullah semula banyak yang buta huruf dan tidak berpengetauan. Musuh-musuh beliau SAW yang menjadi tawanan perang lah yang mengajari mereka membaca menulis. Dengan kesungguhan belajar, mereka kemudian dinobatkan menjadi umat pilihan dan terbaik oleh Allah SWT. Hal ini disebutkan dalam al-Quran Surat Ali Imran: 109.<br />
Marilah kita mulai dari yang sederhana saja. Rasulullah SAW pernah bersabda, jika segala sesuatu tidak ditangani oleh ahlinya, tunggulah kehancurannya. Maka dari itu, kita bisa belajar dari yang kecil.<br />
Pertama: kita coba mengidentifikasi potensi dan kemampuan diri sendiri serta memanfaatkannya dengan maksimal. Mengidentifikasi kemampuan diri berarti refleksi diri, melihat kelebihan dan kekurangan diri sendiri.Kita coba berkaca, apa kemampuan yang nampak menonjol pada diri kita, apakah itu di bidang mesin, kesehatan, administrasi, teknik, pertukangan, perhotelan, perdagangan, elektronik, komunikasi, dan lain-lain. Jika langkah pertama ini tidak tercapai, lakukan langkah kedua.Kedua: kita perluas hubungan. Membatasi pergaulan berarti menghambat perkembangan potensi. Rasulullah SAW selalu bersama dengan sahabat-sahabat beliau jika kemana-mana pergi. Demikian pula sahabat-sahabat beliau.<br />
Menjalin hubungan dengan orang lain berarti membuka pintu potensi baru yang selama ini tertutup. Kita tidak pernah tahu bagaimana nikmatnya bisa berbicara bahasa Arab atau Inggris kalau kita tidak bertemu langsung dengan pembicara aslinya. Kita tidak akan tahu bagaimana mengoperasikan telepon genggam jika kita tidak pernah kenal dengan orang yang mampu menggunakannya. Bila langkah kedua ini tidak berhasil, karena barangkali kita tergolong introvert (tertutup), lakukan langkah ketiga.<br />
Ketiga: jangan biarkan diri ini diam manakala sendirian. Di dalam Islam, tidur pun bisa berarti ibadah. Tapi itu bukan berarti dapat kita terjemahkan bahwa banyak tidur lantas banyak ibadah. A.B.Vajpayee saja, mantan Perdana Menteri India yang Hindu, membatasi tidurnya hanya empat jam sehari.<br />
Demikian pula rata-rata pemimpin dunia, sedikit tidur. Kita bisa mengisi waktu sehari-hari ini dengan berbagai kegiatan yang memberikan sumbangan pengetahuan dan keterampilan. Dalam kesendirian, kita bisa jadi seorang peneliti, penulis, hingga pengamat yang handal.<br />
Penatalaksanaan salah satu aspek dari ketiga langkah ini atau kombinasi dari ketiganya, bila dilakukan terus menerus, bukan tidak mungkin akan menjadikan multi-skilled-man. Manusia yang memiliki keterampilan ganda. Penggalian potensi diri yang tepat akan membuat setiap individu sadar akan perannya. Setiap pribadi yang cinta kerja, dengan landasi niat ibadah, akan menciptakan tatanan dan pola pikir masyarakat yang sehat. Yang pada akhirnya, insyaallah, bakal mampu mengeliminasi salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa kita selama ini, yakni pengangguran.Wallahu a&#8217;lam.<br />
By <a HREF="http://www.mujahidahhelen.wordpress.com">Helen</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=19&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/kita-seorang-revolusioner-or-looser/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bertengkar DEngan Waktu</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/bertengkar-dengan-waktu/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/bertengkar-dengan-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2007 07:48:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[HamasahLlery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/bertengkar-dengan-waktu/</guid>
		<description><![CDATA[Bertengkar dengan waktu Dori kembali melirik jam tangannya yang masih melingkar manis dipergelangan tangannya. Sesekali ikhwan semester awal itu melongokkan kepalanya kearah gerbang masjid Muhajirin, kalau-kalau saja yang ditunggu tunggu memunculkan diri. Bahkan tilawah untuk menenangkan ruhnya pun kini sudah tidak mampu lagi menjaga konsentrasinya. Lisannya membaca, tapi hatinya terbang kemana-mana. Wah… Dori mulai habis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=18&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p ALIGN="left">Bertengkar dengan waktu</p>
<p>Dori kembali  melirik jam tangannya yang masih melingkar manis dipergelangan tangannya. Sesekali ikhwan semester  awal itu melongokkan kepalanya kearah gerbang masjid Muhajirin, kalau-kalau saja yang ditunggu tunggu memunculkan diri.<br />
Bahkan tilawah untuk menenangkan ruhnya pun kini sudah tidak mampu lagi menjaga konsentrasinya. Lisannya membaca, tapi hatinya terbang kemana-mana.<br />
Wah… Dori mulai habis kesabarannya. Ini bukanlah kali pertama ia mendapati para ikhwah menyepelekan janji dalam menepati waktu. Entah mengapa organisasi besar seperti ini punya hobi aneh; TELAT! Contohnya saja untuk kali ini, agenda syuro yang seharusnya sudah dimulai 40 menit yang lalu sampai detik ini belum dibuka juga. Bagaimana mau dibuka, yang hadir cuma Dori sendiri! Asli, suasana masjid pagi itu masih lengang, kosong…enggak   ada tanda tanda kehidupan disana. Temen temen dari Humas dan staf media belum satupun yang hadir. <span id="more-18"></span>Dori menatap nanar kearah seekor kucing yang berbaring santai dengan ekor menjuntai didekatnya. Wah! Kalo aja dia bukan berlabel ikhwan dan masih jahiliyyah seperti dulu, mungkin kekesalannya bakal ia lampiaskan kekucing malang itu. Akh..Dori beristighfar masak seorang aktivis da&#8217;wah kejam gitu, sich?<br />
Tapi…tapi..tapi…<br />
Pikiran Dori melayang lagi. Katanya organisasi ini make konsep ideology Hasan Al-Banna? Apa mereka gak tau konsep Hasan Al-Banna yang laen? Alwajabat aktsaru minal auqot… kewajiban tuh lebih banyak dari waktu yang tersedia!<br />
So seharusnya tuh nggak ada dalam kamus para kader untuk tidak serius dalam menjaga waktu!<br />
Abis…abis..abis<img ALIGN="left" HEIGHT="450" WIDTH="333" BORDER="0" ALT="hamas kids" SRC="http://buletinhamasah.files.wordpress.com/2007/07/hamas_child_2_2.jpg" /><br />
Ini bukan yang pertama kalinya situasi ini ia hadapi. Agenda-agenda da&#8217;wah, acara-acara organisasi, jalsa, MK, semuanya dah! Pasti nggak jauh dari yang namannya molor! Udah kronis, nih penyakit yang satu ini, gerutu Dori, seakan lupa dengan mushaf AL-Qur&#8217;an yang kini berada dipangkuannya. Duapuluh menit pun berlalu sudah. Dan nggak ada satu orang pun yang ngasi konfirmasi seputar telatnya kehadiran mereka dalam agenda syuro kali ini. Dori manyun.<br />
Ada lintasan kekecawaan dihatinya. Maklumlah ikhwan yang satu ini memang msih tergolong baru di organisasi mahasiswa islam ini.<br />
Ia terkenal masih suka emosian dan “apa adanya” dalam mengekspresikan tindakannya. Yaah…kayak lagunya Radja ”butuh waktu untuk mengenalimu….”(wee..koq gak islami gini sich!).<br />
Doripun langsung cabut adri selasar masjid Muhajirin dengan motor F1ZR-nya. Dan langsung berbelok kearah wartel terdekat. Ia harus menelpon Erwan! Yang bertindak sebagai pemimpin syruo hari ini. Yaah.. terpaksa via-wartel, soalnya nggak ada pulsa, jek! He he<br />
Tut….tut<br />
Cukup lama juga nyambungnya. Dori menunggu dengan tidak sabar…. Yup! Nah, nih dia orangnya, baru ngangkat!<br />
“assalamu&#8217;alaikum…” Erwan baru hendak akan bernafas, tapi langsung disambar dengan sadis oleh Dori dengan bertubi-tubi.<br />
“wa&#8217;al;aikum salam arahmatullahi wabarakatuh”<br />
akh ni Dori!! Muhammad Khaidori! Ane udah nunggu-nunggu dari tadi di Muhajirin tapi nggak ada yang datang! Udah nyaris  satu jam lebih! Terus nggak ada yang konfirmasi ke ane juga nih, termasuk dari antum?! Padahal agenda-agenda kita kan lagi  numpuk nih akh? Trus kita juga kesulitan mematchingkan time schedule kita-kita?<br />
…<br />
Gimana nich? Pokoknya kalo ada info selanjutnya, hubungi aja ane yach! Trus afwan kalo nanti  ane nggak bias sms, tanggal tua!nggak ada pulsa!! Daah akh….tarifnya jalan terus nih….wassalam,u&#8217;alaikum!!”<br />
Klik..<br />
”Hh…Erwan  menghembuskan nafasnya yang tingggal satu-satu. Masya Allah, nih anak, ane nggak dikasi kesempatan bicara sedikitpun! Jeritnya dalam hati.<br />
Dori  masih berada dijalan ketika 10 menit kemudian Nokia 8250 nya berbunyi…nomor asing…sms.<br />
“Ass. Akh, afwan. Nih Erwan. Ane mo ngasi tau, syuronye bukan di Muhajirin tapi di Almujahidin! Afwan mungkin  kemarin antum salah dengar. Terus afwan jug a nggak ngasi konfirmasi ane sendiri juga lagi nggak ada pulsa. Nih juga “ngincer” ikhwah yang lewat Ditodongin buat minjem<br />
HP<br />
haaa? Dori melongo. Waduh! Malu-maluin aja nih….wah, ikhwan yang satu ini langsung memutar haluan kearah Mujahidin. Sempat berhenti bentar dipinggir jalan tuk beli “jajanan” sebagai oleh oleh permintaan maaf…<br />
Di Mujahidin….  dori mengernyitkan dahi begitu melihat dari kejauhan sosok jangkung berjengot dengan koko rapi tengah asyik tenggelam dengan bacaan qurannya&#8230;. sendirian itu.. Akh irwan&#8230;. !<br />
Dori bergegas menghampiri seniornya itu dengan perasaan cemas. Saking cemasnya, ia lupa mengucapkan salam.<br />
“ wah , akh! Afwan jiddan ane udah melalkukan kesalahan .. Misunderstanding akh! Aduh, jadi  malu banget nih&#8230; “ serunya langsung. Ia meraih jabat tangan akh erwan plus cipika-cipiki yang yang disambut kaget oleh erwan.<br />
“ bukan begitu akhi! Seru erwan sambil merangkul juniornya itu dengan senyum simpul dikulum.<br />
Dori masih belum nyambung. Ia mengedarkan pndangannya ke sekeliling selsar masjid yang sudah kosong.</p>
<p>Waduh akhi ! Tadi ane marah-marah nggak jelas gitu, ke antum. Ternyata justru ane yang telat datang syuro` sampai sampai syuro`nya dah selesai begini&#8230; . Seru dori wajahnya bersemu merah.<br />
Erwan tersenyum penuh arti. Ada apa gerangan ?<br />
Afwan sekali lagi dori. Sebenarnya keadan yang sesungguhnya adalah : ane juga lagi nunggu temen-temen yang lain.. Karena sampai detik ini  mereka juga belum datang!! So syuro`nya terancam gagal..<br />
Dori melongo kembali, bungkusan plastik sebagai oleh-oleh untuk anggota syuro` sempat terlepas dari tangannya.<br />
Hening sejenak . Mereka saling tatap. Dori berkata lirih “ ya udah&#8230; Tafadhol molennya.. Mumpung masih hangat&#8230;   <a HREF="http://www.mimichatz.wordpress.com">(Mimi &#8211; catz05)</a></p>
<p><font COLOR="#800000">NB : “ kesalahan-kesalahan dan kelalaian kita dalam mengemban amanah-amanah dakwah bisa jadi berasal dari ketidak siapan kita dalam memanage waktu&#8230; “ </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=18&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/07/09/bertengkar-dengan-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiada Hari Tanpa Militansi</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/06/tiada-hari-tanpa-militansi/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/06/tiada-hari-tanpa-militansi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 05:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/06/tiada-hari-tanpa-militansi/</guid>
		<description><![CDATA[Militansi? Mungkin banyak orang yang merasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini. Kata militansi memang Iebih sering dipandang negatif oleh masyarakat, apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang Iantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Serikat.. Orang seringkali mengaitkan kata ini dengan “kekerasan”“senjata, “ketidakramahan”, atau “intoleransi” Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=11&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Militansi? Mungkin banyak orang yang merasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini.<br />
Kata militansi memang Iebih sering dipandang negatif oleh masyarakat, apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang Iantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Serikat.. Orang seringkali mengaitkan kata ini dengan “kekerasan”“senjata, “ketidakramahan”, atau “intoleransi” Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam miIitan’.yang tergambar mungkin sekelompok pemuda berjanggut lebat sedang mengangkat senjata atau bersiap-siap rnelakukan aksi “bunuh diri”. Apakah militansi harus selalu harus diartikan seperti itu?<span id="more-11"></span><br />
Bagi seorang muslim yang baik, apalagi bagi seorang aktivis da’wah, militansi mutlak diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.<br />
Islam jelas merupakan agama rahmat. tapi untuk menjamin terwujudnya rahmat di muka bumi tentu dibutuhkan perjuangan serta upaya yang optimal. Islam merupakan agama yang adil, tapi agar keadilan terwujud diperlukan komitmen yang sangat kuat. Islam sudah barang tentu merupakan agama yang indah, tapi keindahan sejati tidak akan pernah tertampakkan tanpa adanya keseriusan dan kesungguh-sungguhan dari para ‘pelukisnya’.<br />
Di sinilah arti pentlngnya militansi bagi seorang muslim. Militansi yang kita maksud di sini adalah jiddiyah (kesungguhan), hamasah (semangat), shawabit (disiplin), komitmen, dan istiqamah. Kalau begitu, tentu saja tidak ada masalah dengan militansi, karena itu memang diperintahkan oleh Islam sekaligus dibutuhkan untuk menegakkan nilai-nilainya di muka bumi. Tanpa militansi, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, rahmat, keadilan, serta keindahan sejati tidak mungkln terwujud dengan baik.<br />
Militansi yang harus tumbuh pada diri setlap aktivis da’wah adalah seperti militansi yang pernah dicontohkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya. Militansi Nabi SAW dan para sahabat adalah militansi yang seimbang dan pertengahan. Ia bisa berbentuk ketegasan terhadap musuh, tapi lembut terhadap saudara seiman. Ia adalah ketegasan sikap yang tidak mengabaikan akhlak yang mulia. Ia adalah teguran yang keras untuk meluruskan kesalahan, sebagaimana Nabi SAW menegur sahabatnya ketika khilaf menyakiti perasaan saudaranya. Namun, ia juga merupakan kecintaan yang mendalam serta perbuatan yang menyenangkan, sebagaimana Nabi SAW bendiri ketika jenazah seorang Yahudi sedang diusung. Jadi seorang muslim yang militant berkomitmen pada Islam dan mengetahui bagaimana ia harus bersikap dan berbuat sesuai dengan tuntunan Islam.<br />
Militansi menuntut totalitas dalam penerimaan dan pelaksanaan seluruh nilai-nilai serta amaliah Islam. Ini seperti Umar bin Khattab yang memusuhi Nabi sangat pada masa pra-keimanan, kemudian membela Nabi sangat setelah berjumpa hidayah. Militansi menuntut kesungguhan dalam berjuang, seperti seorang sahabat yang membuang kurma-kurmanya di Perang Badar karena tak sabar menanti syahid. Militansi memungkinkan munculnya visi yang sangat kuat, seperti Anas bin Nadzar yang sudah mencium wangi surga ketika menginjakkan kakinya di peperangan Uhud, atau seperti para sahabat yang “melihat” surga dan neraka ketika tengah duduk di majelisnya Rasulullah SAW. Militansi akan melahirkan motivasi nan tinggi, seperti Amr bin Jamuh yang tetap ngotot pergi ke medan jihad dengan satu kakinya yang pincang.<br />
Militansi mengharuskan adanya konsistensi, seperti jihadnya Abu Ayub yang tidak kenal lelah kendati sudah tua usia, atau seperti amal seorang guru Imam Hanafi yang meninggal dunia tatkala shalat. Militansi mewajibkan kesabaran, seperti sabarnya Ayub AS menanggung sakit, atau sabarnya Nuh AS berda’wah ratusan tahun. Militansi menggambarkan semangat, seperti semangat para tabi’in yang merantau ke bebenapa negeri hanya untuk mencani sebuah hadits, atau seperti semangat belajar Imam Thabar dan Al-Biuni yang masih bendiskusi agama beberapa detik sebelum meninggalnya. Militansi berasal dan keyakian yang dalam, seperti keyakinan Abu Bakar setiap saat pada “sahabatnya” tanpa perlu pembuktian rasional apa pun, atau seperti Abu Dzar yang meyakini janji Nabi tentang dirinya tanpa perlu membuktikannya secara langsung.<br />
Militansi juga berarti keberanian, seperti keberanian lbnu Mas’ud membaca Al-Qur’an depan musyrikin Quraisy hingga dipukul babak belur. Militansi juga bermakna ketundukan dan kepasrahan pada Allah seperti ibadahnya Abu Darda yang nyaris melupakan hak-hak diri dan keluarganya, atau seperti infaqnya Abu Bakar dan Abdurnahman bin Auf yang nyaris mengabaikan kebutuhan diri dan keluarganya. Militansi bermakna kecintaan yang mendalam pada Nabi SAW seperti Bilal yang tak sanggup melantunkan adzan setelah wafatnya Nabi, atau seperti Ibnu Umar yang berharap tapak-tapak untanya mengenai bekas-bekas tapak unta Nabi dalam setiap penjalanannya. Dan akhirnya, militansi adalah istiqamah di jalan-Nya, sebagaimana istiqamahnya AIi, Salman, dan seluruh sahabat lainnya, yang tak pernah bisa digoda dunia hingga akhir hayatnya. Wa laa tamuutunna ilIa wa antum muslimuun ‘dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim’.<br />
Seperti itulah makna militansi bagi seorang muslim sejati, dan terutama bagi seorang aktivis da’wah. Karena itu, ia seharusnya dipegang teguh setiap saat. Ia harus menjadi slogan abadi yang torus mengawal dan mengiringi perjalanan hidup seorang aktivis da’wah. Tiada hari tanpa militansi. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=11&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/06/tiada-hari-tanpa-militansi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jihad jangan pernah mati!!</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/06/jihad-jangan-pernah-mati/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/06/jihad-jangan-pernah-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 05:41:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[HamasahLlery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/06/jihad-jangan-pernah-mati/</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu, senandung kecil berbunyi di HP ku. &#8220;Ukhti… beliau telah mendahului kita. Allah lebih mencintainya dari pada kita. Siang hari tadi Allah memanggilnya.&#8221; Innalillahi wa inna ilaihi rojiun … Masih terpana dan diam membisu hingga bunyi SMS berikutnya. &#8220;Dalam kecintaan yang suci, telah berpulang kekasih Allah, akhi kita tercinta &#8230;.&#8221; Air mata mulai meleleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=9&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu, senandung kecil berbunyi di HP ku. &#8220;Ukhti… beliau telah mendahului kita. Allah lebih mencintainya dari pada kita. Siang hari tadi Allah memanggilnya.&#8221; Innalillahi wa inna ilaihi rojiun … Masih terpana dan diam membisu hingga bunyi SMS berikutnya. &#8220;Dalam kecintaan yang suci, telah berpulang kekasih Allah, akhi kita tercinta &#8230;.&#8221; Air mata mulai meleleh dari sudut mana yang begitu paham, apa arti tangisannya kali ini. Selanjutnya, SMS berantai dan saling tangis di telepon pun mewarnai hari melepas kepergian seorang mujahid.<span id="more-9"></span><br />
	Usianya masih muda, berkisar 20an tahun. Semangatnya masih membara, mengusung idealisme dakwah yang mendunia. Kinerjanya luar biasa, mendobrak kebekuan kreativitas ide dan karya. Lembut suara dan gemulai geraknya, tidaklah membuatnya tersisih dari pertarungan dakwah yang penuh tantangan ini. Tepat setahun lalu mengenalnya. Tapi, setahun cukup sudah mengukir kanangan indahnya perjuangan bersamanya.<br />
***<br />
	Begitulah hidup seorang mujahid. Dakwah adalah urat nadi kehidupan. Tak peduli dalam kodisi sesulit apapun, hembusan nafas adalah aroma dakwah. Denyut nadi adalah detak perjuangan. Berkarya dan teru berkarya adalah sebuah keniscayaan dalam medan dakwah ini. Tak peduli apakah karya itu akan dilihat besar atau kecil oleh manusia. Tak peduli apakah orang akan memuji atau malah mencaci. Seorang mujahid hanya tahu bahwa hidup ini amatlah singkatnya. Apa pun yang dipunya hanyalah tuk sebuah persiapan menuju pertanggungjawaban di hadapan yang Maha Agung.<br />
	Dan, Apakah kita telah membuktikan janji pada Rabb? Beliau telah memenuhi tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi ini. Tangis orang-orang yang melepas kepergiannya bukanlah sembarang kesedihan. Di dalam tangis itu, ada untaian doa yang indah untuk kebahagiannya. Di dalam doa itu ada kecemburuan tuk bertemu Rabb semesta alam. Di dalam tangis itu, ada janji terpatri tuk melanjutkan perjuangan ini.<br />
	Sekali lagi, begitulah hidup seorang mujahid. Hadirnya memberi semangat dan kesejukan pada sekitarnya. Perginya menoreh kesedihan tanda kecintaan. Sepeninggalnya, cita-cita agungnya menjadi inspirasi dan motivasi bagi sahabat-sahabat dan penerusnya. Dakwah ini masih panjang. Masih terbuka kesempatan untuk mengisi barisan kafilah pejuangnya. Pilihan ada di tangan kita. Akan berdiri di mana kah kita ….?<br />
	Dunia yang mudah lupa barangkali tak banyak yang mengenang ini. Padahal, saat itu gambar mengharukan itu termuat di hampir semua media dunia berkat rekaman awak TV Prancis. Adalah adegan Jamal Ad-Durra yang meringkuk di belakang tong di dekat persimpangan Gaza-Khan Yunis sambil menggamit dan melindungi putranya, Muhammad Ad-Durra, dari tembakan ngawur tentara Israel. “Jangan khawatir, Ayah. Ambulans akan datang menolong kita,” kata bocah 12 tahun itu sesaat sebelum peluru tajam merobek perutnya. Dua petugas memang keluar dari ambulans untuk menolong, tapi segera tertembak. Sejam kemudian, tubuh Jamal telah tersimpuh dengan luka tembak di sikut, tangan, dan kaki. Sedangkan bocah itu tewas tertelungkup di betis sang ayah.<br />
	Ya. Sementara mereka membeli tiket jalur bebas hambatan ke surga, jihad macam apa yang kita lakukan untuk meniru atau menyokong mereka? Cukupkah dengan duduk dan bersendawa kekenyangan sambil menyaksikan semua itu di TV dan koran? Duh, jangan-jangan kita memang tak peduli lagi pada perjuangan saudara kita itu, dan lebih peduli pada apa gerangan nasib si tokoh Anu yang rupawan-tapi-pandir dalam sinetron bebal. Dan, jangan-jangan, diam-diam kita malah memendam kenikmatan aneh dalam melihat leleran darah di tv itu, lantaran kebanyakan dicekoki dan mencekoki diri kita dengan berita kriminal yang super vulgar.<br />
	Memang, secara geografis, Palestina jauh dari negeri kita. Tapi alangkah karibnya ia dengan sejarah Islam. Ke sana kiblat pertama kita, dari sana Rasulullah mi’raj, di sana Isa putra Maryam lahir. Dan wanita Palestina telah melahirkan mujahid agung dari Imam Syafi&#8217;i, Izzuddin Al Qossam, hingga Yahya Ayash.<br />
	Akankah kita tidur, kongkow di mal, negeceng, main game, dan seterusnya setelah lebih dari setengah abad tanah suci itu dirundung kekejian? Bukankah seharusnya kita sakit, sebab sebagian tubuh kita disakiti? Bukankah doktrin abadi persaudaraan kita adalah: &#8220;Bahwa sesungguhnya kaum muslimin itu satu tubuh, bila satu bagian sakit, seluruh bagian lainnya akan turut merasakan”?<br />
Tidakkah kita merasa aneh, jika perjuangan saudara seiman kita itu tak cukup mengilhami kita untuk giat berjuang di jalan Allah juga?<br />
	Kemalasan akan berujung pada minimnya peran kita. Bayangkan, jika berjihad melawan rasa malas diri sendiri saja kita keok, bagaimana kita akan bisa berjihad dan membantu saudara kita yang tertindas? Tanpa kerja keras, bagaimana lembaga ekonomi, ilmiah, sosial, budaya, dan dakwah kita akan bergairah?<br />
	Jika kita loyo, dengan apa lagi kita mesti menghadapi orang setangguh Golda Mier, si mantan perdana menteri Israel yang pernah bekerja enam belas jam per hari tanpa istirahat demi mempertahankan prinsip dan pikiran sesatnya? (Bersama Ben Gurion, Golda Mier adalah orang yang kemudian berhasil mendirikan negara Israel di atas bumi Palestina).<br />
	Panggilan jihad yang perlu kita sambut adalah kontribusi terbaik apa yang bisa kita sumbangkan, baik buat saudara kita di Palestina maupun buat ummat secara umum. Di depan tiap muslim, ladang jihad telah menanti: kebodohan, kemiskinan, pengangguran, penindasan, penyesatan, penjajahan, kriminalitas, ketidakadilan, dan sebagainya. Kalau kamu karyawan, tunjukkan karya terbaikmu. Jika kamu penulis, wartawan, atau siapa pun yang punya perangkat untuk menyebarkan kebenaran, paparkanlah kebenaran itu, sebab pers dunia telah bias oleh berbagai kepentingan segelintir raja media.<br />
	So, ketika raga Mujahadah adalah sebuah sikap bersungguh-sungguh atau optimalisasi dalam melakukan sesuatu. Kondisi perang yang tak seimbang membuat orang-orang Palestina harus mengupayakan berbagai cara serta sarana untuk melawan. Mata dunia tentu saja harus dibuat melek bila mereka tetap bilang bahwa kekuatan dapat menjadi senjata yang bahkan membuat gentar musuh, orang-orang Palestina pun bermujahadah dengan aksi-aksi syahidnya.<br />
Dan kamu sobat muda muslim, apa aksi mujahadah kamu?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=9&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/06/jihad-jangan-pernah-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KRC ( Kammi Reaksi Cepat )</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/05/krc-kammi-reaksi-cepat/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/05/krc-kammi-reaksi-cepat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jun 2007 06:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[HumasKaMda*Agend]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/05/krc-kammi-reaksi-cepat/</guid>
		<description><![CDATA[Foto foto ini adalah sebagian dari agenda agenda KAMMI daerah Kalbar &#8230;&#8230;.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=5&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto foto ini adalah sebagian dari agenda agenda KAMMI daerah Kalbar &#8230;&#8230;.<br />
<div><embed src='http://widget-38.slide.com/widgets/slideticker.swf' type='application/x-shockwave-flash' quality='high' scale='noscale' salign='l' wmode='transparent' flashvars='site=widget-38.slide.com&channel=288230376161003064&cy=wp&il=1' width='400' height='300' name='flashticker' align='middle' /><div style='width: 400px;text-align:left;'><a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&tt=0&sk=0&cy=wp&th=0&id=288230376161003064&map=1' target='_blank'><img src='http://widget-38.slide.com/p1/288230376161003064/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide1.gif' border='0' ismap='ismap' /></a> <a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&tt=0&sk=0&cy=wp&th=0&id=288230376161003064&map=2' target='_blank'><img src='http://widget-38.slide.com/p2/288230376161003064/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide2.gif' border='0' ismap='ismap' /></a></div></div></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=5&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/05/krc-kammi-reaksi-cepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/04/hello-world/</link>
		<comments>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/04/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2007 08:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimi_chatz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minna]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Hikmatus suyukh wa HAMASATUSSyabab.. pernah dengar slogan ini ? Sebijak orang tua dan berSEMANGAT layaknya pemuda..buletin hamasah tidak hadir kecuali untuk memacu SEMANGAT kita semua untuk terus beramal ,berkarya, karena hanya dengan cara inilah kita akan dinilai, dan sebagai hujjah kita di depanNya, kelak.. HAmasAh, Menggelorakan SEmanGat JihaDmu!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=1&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://buletinhamasah.files.wordpress.com/2007/06/logo-kammi-revisi.jpg' title='logo-kammi-revisi.jpg'><img src='/files/2007/06/logo-kammi-revisi.thumbnail.jpg' alt='logo-kammi-revisi.jpg' /></a><br />
<font size="1" color="green">Hikmatus suyukh wa HAMASATUSSyabab.. pernah dengar slogan ini ? Sebijak orang tua dan berSEMANGAT layaknya pemuda..buletin hamasah tidak hadir kecuali untuk memacu SEMANGAT kita semua untuk terus beramal ,berkarya, karena hanya dengan cara inilah kita akan dinilai, dan sebagai hujjah kita di depanNya, kelak..</font> <font size="2" color="red">HAmasAh, Menggelorakan SEmanGat JihaDmu!</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletinhamasah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletinhamasah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletinhamasah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletinhamasah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletinhamasah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletinhamasah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletinhamasah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletinhamasah.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletinhamasah.wordpress.com&amp;blog=1192732&amp;post=1&amp;subd=buletinhamasah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletinhamasah.wordpress.com/2007/06/04/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/325cb5db6abf2c9f79e6dbd76bc0af70?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimi_chatz</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
